Kamis, 11 April 2013

Konflik Sosial Berbau SARA


Bangsa Indonesia yang terkenal karena kerukunan yang tercipta dari keramahan warga negaranya kini memiliki banyak konflik mengenai perbedaan suku, ras terlebih lagi masalah perbedaan agama yang sekarang ini sedang diperbincangkan. Munculnya banyak isu-isu dari berbagai agama yang menganggap bahwa mereka adalah wakil Tuhan, hal tersebut membuat banyak orang saling beradu keyakinan. Seperti halnya kasus yang terjadi di Cikeusik atau Temanggung yang saling beradu memiliki pemahaman keagamaan yang paling benar dan merasa bahwa merekalah yang dapat menghakimi siapa saja. Pada dasarnya kondisi kehidupan beragama tidak toleran terhadap perbedaan terutama masalah agama adalah karena faktor manusia itu sendiri yang tidak dapat menghargai orang lain serta perilaku yang suka menghakimi orang lain, serta menganggap bahwa dirinya lah yang paling benar. Di balik aspek perkembangan agama-agama, ada hal yang penting pada agama yang tak berubah, yaitu pengakuan iman. Pengakuan iman merupakan sesuatu khas, dan mungkin tidak bisa dijelaskan secara logika, karena menyangkut iman atau percaya kepada sesuatu di luar jangkauan kemampuan nalar manusia. Dan seringkali pengakuan iman tersebut menjadikan umat agama-agama melakukan pembedaan satu sama lain. Dari pembedaan, karena berbagai sebab, bisa berkembang menjadi pemisahan, salah pengertian, beda persepsi, dan lain sebagainya, kemudian berujung pada konflik.
Perilaku tersebut sudah tidak tercemin lagi dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” yang memiliki makna “Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu”. Dalam isi dari semboyan itu menyatakan meskipun kita terpecah belah dari berbagai agama, tetapi tujuan kita tetap satu yaitu membela bangsa dan Negara. Saat ini bangsa ini Indonesia tidak bisa menerapkan makna Bhinneka Tunggal Ika di dalam kehidupan Negara. Bhinneka Tunggal Ika sudah menjadi hal yang tidak dihiraukan lagi oleh masyarakat karena banyaknya masyarakat yang tidak memedulikan hak asasi manusia. Banyaknya kehidupan yang marak dengan aksi kekerasan dengan mengandalkan agama, karena menurut mereka dengan berkedok agama mereka tidak akan dicurigai perbuatannya. Sekali lagi itulah yang membuat Bhinneka Tunggal Ika semakin menurun derajatnya. Di samping itu, hal-hal lain seperti pembangunan tempat ibadah, ikon-ikon atau lambang keagamaan, cara dan suasana penyembahan atau ibadah, termasuk di dalamnya perayaan keagamaan, seringkali menjadi faktor ketidaknyamanan pada hubungan antar umat beragama. Jika semua bentuk pembedaan serta ketidaknyamanan itu dipelihara dan dibiarkan oleh masing-masing tokoh dan umat beragama, maka akan merusak hubungan antar manusia, kemudian merasuk ke berbagai aspek hidup dan kehidupan. Misalnya, masyarakat mudah terjerumus ke dalam pertikaian berdasarkan agama, perbedaan suku, ras dan golongan. Untuk mencegah semuanya itu, salah satu langkah yang penting dan harus terjadi adalah kerukunan umat beragama. Suatu bentuk kegiatan yang harus dilakukan oleh semua pemimpin dan umat beragama.
Jika saya menjadi Presiden, saya dapat melindungi hak warga negara apabila masyarakat tidak melakukan tindakan yang merugikan Negara, misal tidak berdemo yang merusak fasilitas Negara, tidak melakukan kekerasan di depan umum dll. Kemudian pemerintah dapat mengoptimalkan tugas lembaga Menkumham untuk melayani hak asasi dan kemerdekaan setiap Warga Negara. Karena pada dasarnya, Negara dapat memberikan haknya apabila Warga Negaranya sudah melakukan kewajibannya dengan baik sebagai warga Negara. Pemerintah harus dapat menciptakan kerukunan [dari ruku, bahasa Arab, artinya tiang atau tiang-tiang yang menopang rumah; penopang yang memberi kedamain dan kesejahteraan kepada penghuninya] secara luas bermakna adanya suasana persaudaraan dan kebersamaan antar semua orang walaupun mereka berbeda secara suku, agama, ras, dan golongan. Kerukunan juga bisa bermakna suatu proses untuk menjadi rukun karena sebelumnya ada ketidakrukunan; serta kemampuan dan kemauan untuk hidup berdampingan dan bersama dengan damai serta tenteram. Langkah-langkah untuk mencapai kerukunan seperti itu, memerlukan proses waktu serta dialog, saling terbuka, menerima dan menghargai sesama, serta cinta-kasih.
Kerukunan antara umat beragama dan kerukunan intern umat seagama harus juga seiring dengan kerukunan umat beragama dengan pemerintah. Pemerintah adalah lembaga yang berfungsi memberlakukan kebaikan Allah kepada manusia; pemelihara ketertiban, keamanan, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Namun, dalam kenyataan kesehariannya, seringkali terlihat bahwa, pemerintah dengan politik akomodasinya, bukan bertindak sebagai fasilitator kerukunan umat beragama, tetapi membela salah satu agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar