Kamis, 27 November 2014

AFEKTIF


Kompetensi Dasar untuk SMA kelas X :
3.1 Menganalisis kasus-kasus pelanggaran HAM dalam rangka pelindungan dan pemajuan HAM sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
A.  Pengertian Afektif
Menurut Nana Sudjana (2004:53), ranah afektif ialah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Beberapa pakar mengatakan, bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahan-perubahannya bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi.
Menurut David R. Krathwohl (1964:7), mendefinisikan ranah afektif Affective, objectives which emphasize a feeling tone, an emotion, or degree of acceptance or rejection.3 Afektif ialah perilaku yang menekankan perasaan, emosi, atau derajat tingkat penolakan atau penerimaan terhadap suatu objek.
Syamsu Yusuf LN (2004:9), mengatakan bahwa ranah afekif pada dasarnya merupakan tingkah laku yang mengandung penghayatan suatu emosi atau perasaan tertentu. Contoh ikhlas, senang, marah, sedih, menyayangi, mencintai, menerima, menyetujui dan menolak.
Menurut Muhibbin Syah (1995:54), ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku, seperti: perhatiannya terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam, kedisiplinan dalam mengikuti pelajaran agama di sekolah, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai pelajaran agama Islam yang diterimanya, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru agama pendidikan agama Islam dan lain sebagainya. Dengan demikian, evaluasi ranah afektif ialah penilaian terhadap aspek sikap siswa untuk mengetahui sejauhmana perilaku siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Menurut Krathwohl (1964:54-56), ranah afektif ditaksonomikan menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, sebagai berikut:
1.      Menerima atau memperhatikan (receiving atau attending)
Menerima atau memperhatikan (receiving atau attending) ialah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain, termasuk dalam jenjang ini misalnya ialah kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus, mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan yang datang dari luar. Receiving atau attenting juga sering diberi pengertian sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek.
Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia untuk menerima nilai atau nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka, dan mereka mau menggabungkan diri ke dalam nilai itu atau mengidentikkan diri dengan nilai itu. Contoh hasil belajar afektif jenjang receiving, misalnya ialah peserta didik menyadari bahwa disiplin wajib ditegakkan, sifat malas dan tidak berdisiplin harus disingkirkan jauh-jauh.
2.      Menanggapi (responding)
Menanggapi (responding) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”. Jadi, kemampuan menanggapi ialah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara. Jenjang ini setingkat ranah afektif receiving. Contoh hasil belajar ranah afektif jenjang responding ialah peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajari lebih jauh atau menggali lebih dalam lagi, ajaranajaran Islam tentang kedisiplinan.
3.      Menilai/menghargai (valuing)
Menilai/menghargai (valuing) yang dimaksudkan ialah memberi nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau objek, sehingga apabila kegiatan atau objek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Valuing merupakan tingkatan afaktif yang lebih tinggi lagi dari pada receiving dan responding. Dalam kaitan dengan proses belajar mengajar, peserta didik di sini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan, tetapi mereka telah mampu untuk menilai konsep atau fenome, yaitu baik atau buruk. Bila sesuatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan telah mampu untuk mengatakan “itu ialah baik”, maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian. Nilai itu telah mulai dicamkan (internalized) dalam dirinya. Dengan demikian, maka nilai tersebut telah stabil dalam diri peserta didik. Contoh hasil belajar afektif jenjang valuing ialah tumbuhnya kemauan yang kuat pada diri peserta duduj untuk berlaku disiplin, baik di sekolah, di rumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
4.      Mengatur atau mengorganisasikan (organization)
Mengatur atau mengorganisasikan (organization) ialah mempertemukan perbedaan nilai, sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa kepada perbaikan uum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan nilai dari ke dalam satu system organisasi, termasuk di dalamnya hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Contoh hasil belajar afektif jenjang organization ialah peserta didik mendukung penegakan disiplin nasional. Mengatur dan mengorganisasikan merupakan jenjang sikap atau nilai yang lebih tinggi lagi ketimbang receiving, responding dan valuing.
5.      Karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai (characterization by a value or value complex)
Karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai (characterization by a value or value complex) ialah keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Di sini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalam suatu hirarki nilai. Nilai itu telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya.
Hal ini ialah merupakan tingkatan afektif tertinggi, karena sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana. Ia telah memiliki philosophy of life yang mapan. Jadi, pada jenjang ini peserta didik telah memiliki system nilai yang mengotrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang cukup lama, sehingga membentuk karakteristik “pola hidup” tingkah lakunya menetap, konsisten dan dapat diramalkan.
Karakteristik afektif
Ada 5 tipe karakteristik afektif yang penting berdasarkan tujuannya, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
1.      Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999).
2. Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.
3.      Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.
Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.
Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut:
a)      Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
b)      Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
c)      Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
d)     Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
e)      Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
f)       Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik.
g)      Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
h)      Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.
i)        Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik.
j)        Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
k)      Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
l)        Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.
m)    Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk     instropeksi pembelajaran yang dilakukan.
n)      Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.
o)      Peserta didik mampu menilai dirinya.
p)      Peserta didik dapat mencari materi sendiri.
q)      Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.

4.      Nilai
Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.
Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu.
5.      Moral
Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang per-kembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak.
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.
Ranah afektif lain yang penting adalah:
a)      Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain.
b)      Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik.
c)      Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan.
d)     Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang.
Pentingnya penilaian afektif
Menurut Popham (1995), ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Seseorang yang berminat dalam suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu semua pendidik harus mampu membangkitkan minat semua peserta didik untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Selain itu ikatan emosional sering diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan, semangat persatuan, semangat nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya. Untuk itu semua dalam merancang program pembelajaran, satuan pendidikan harus memperhatikan ranah afektif. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal.

PENERAPAN PENILAIAN AFEKTIF
            Penilaian dilaksanakan selama proses dan hasil pembelajaran yang dignakan adalah tes objektif dan menggunakan skala sikap

KISI-KISI SOAL RANAH AFEKTIF
NO
INDIKATOR
/TUJUAN
MATERI
BAHAN KELAS
INDIKATOR SOAL
BENTUK SOAL
NO SOAL
1.
Siswa mampu menganalisis kasus-kasus pelanggaran HAM dalam rangka pelindungan dan pemajuan HAM sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pelanggaran HAM dan perlindungan dan pemajuan HAM di Indonesia
X
Semester I
1. Pancasila mengandung nilai-nilai yang patut dipertahankan.
Skala Likert
1
2.Gagasan Pancasila sebagai ideologi tidak cocok dengan kepribadian Indonesia
Skala Likert
2
3. Pancasila memiliki nilai yang tetap namun dinamis
Skala Likert
4. Ideologi tertutup paling cocok diterapkan di Indonesia
Skala Likert





B. Bentuk Non Tes Skala Sikap Likert
Petunjuk : Berilah tanda cross (x) pada salah satu kolom jawaban dibawah ini sesuai dengan kejujuran (sesuai dengan apa adanya)
NO
PERNYATAAN
SS
S
TS
STS
KETERANGAN
1.
Seluruh pelanggar HAM berat harus dihukum sesuai dengan perbuatannya
2.
Upaya penegakan hanya harus dilakukan oleh pemerintah dan polisi saja
3.
Mendukung pelaksanaan dari instrumen-instrumen HAM
4
Pelanggaran HAM dianggap telah menurunkan moral
5
Anak melawan/menganiaya/membunuh saudaranya atau orang tuanya sendiri.
6
Orang tua menyiksa/menganiaya/membunuh anaknya sendiri.
7
Orang tua yang memaksakan keinginannya kepada anaknya (tentang masuk sekolah, memilih pekerjaan, dipaksa untuk bekerja, memilih jodoh).
8.
Diperbolehkan menganggu etnis lain

KETERANGAN :
SS        : Sangat Setuju
S          : Setuju
TS        : Tidak Setuju
STS     : Sangat Tidak Setuju



Tidak ada komentar:

Posting Komentar