Kamis, 27 November 2014

Cara Memelihara dan Melestarikan Realitas Kemajemukan Bangsa Indonesia dalam berbagai aspek di Kabupaten Mojokerto

Visi pembangunan daerah Kabupaten Mojokerto adalah
Kabupaten Mojokerto yang maju, adil, makmur, tentram dan beradabab.

Misi pembangunan daerah Kabupaten Mojokerto, meliputi:
a.       Mewujudkan pemerataan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya, politik, hukum, dan keamanan tanpa mentoleransi adanya diskriminasi adalah upaya untuk meningkatkan pemerataan pembangunan di daerah Kabupaten Mojokerto guna: mengurangi kesenjangan sosial secara menyeluruh; menanggulangi kemiskinan dan pengangguran; menyediakan akses yang sama bagi masyarakat terhadap berbagai pelayanan sosial serta sarana dan prasarana ekonomi; serta menghilangkan diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat termasuk gender.
b.      Mewujudkan masyarakat yang demokratis berdasarkan hukum yang berkeadilan adalah upaya untuk memantapkan kelembagaan demokrasi agar menjadi lebih kokoh guna memperkuat peran serta masyarakat dst. 

Mengingat arus globalisasi semakin deras dalam kehidupan sehari-hari banyak beberapa aspek yang mulai hilang dalam masyarakat. Cara memelihara dan melestarikan realitas kemajemukan Bangsa Indonesia dalam berbagai aspek supaya tidak tercerai berai di Kabupaten Mojokerto adalah
1.        Aspek Agama
Memelihara dan melestarikan aspek agama dalam kemajemukan Bangsa Indonesia yaitu dengan cara :
a)         Dialog agama
Dialog agama ini bertujuan untuk menginformasikan berbagai informasi agar tidak terjadi kesalapahaman antar umat agama. Biasanya dialog agama ini dilakukan oleh para ulama atau tokoh agama yang dianggap sebagai panutan di daerah tersebut.
b)        Menghargai tempat beribadah agama lain
Di mojokerto terdapat beberapa tempat beribadah yang cukup besar dari berbagai agama. Tempat ini sekaligus sebagai tempat beribadah juga merupakan tempat peninggalan bersejarah. Diantaranya adalah Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat merupakan salah satu gereja tertua di Kota Mojokerto dan merupakan peninggalan zaman Belanda. Masjid Agung Al-Fattah didirikan pada zaman Belanda tepatnya pada tanggal 7 Mei 1878 berada di pusat kota sebelah Barat Aloon-aloon. Klenteng Hok Siang Kiong didirikan pada tahun 1895. Ciri khas bangunan itu adalah bentuk arsitekturnya yang khas Cina. Adanya tempat beribadah yang besar tersebut menunjukkan adanya saling menghormati terhadap tempat beribadah masing-masing. Sehingga tidak terjadi konflik antar umat beragama di mojokerto.
c)         Mengadakan ceramah-ceramah agama bagi umat islam
Karena sebagian masyarakat mojokerto beragama islam biasanya bupati mojokerto saat ada syukuran kota mojokerto mengadakan ceramah agama dengan mendatangkan beberapa kyai yang cukup terkenal di beberapa daerah. 

2.        Aspek Etnik/Suku
Orang Jawa sudah lama memiliki moto “nrimo pawehing pandum”, artinya menerima apa yang diberi Tuhan. Orang Jawa merupakan suku yang penyebarannya paling luas dan mampu hidup harmonis bersama anak bangsa lainnya. Cara hidup orang jawa yaitu mengedepankan harmoni, menjadikan orang Jawa dapat hidup berdampingan secara damai dan nyaman dengan suku bangsa lain. Dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas, orang Jawa berprinsip seperti wasiat Mangkunegoro I, yang dikenal dengan istilah Tribroto, yaitu selalu “rumongso melu handarbeni”, harus merasa ikut memiliki, wajib “melu hangrungkebi“, wajib ikut membela dengan ikhlas, dan “mulat sariro hangroso wani”, harus selalu mawas diri dan memiliki sifat berani membela kebenaran. Filosofi itulah, menjadikan orang Jawa mudah diterima semua pihak.
Filosofi  orang Jawa dipelajari, bahkan dipakai oleh banyak orang di luar etnis Jawa. Tidak hanya dalam urusan kehidupan secara umum, tetapi juga dalam hal kepemimpinan. Masyarakat Jawa telah memiliki doktrin kepemimpinan sendiri, seperti tercantum dalam kitab Ramayana karangan Yosodipuro I yang hidup di Keraton Surakarta, abad ke-18 yang dikenal dengan istilah Hasto-Broto, yakni ciri kepemimpinan berdasarkan sifat-sifat alam, yaitu : Suryo, matahari yang menyebarkan energi. Condro, bulan, indah dan penuh keteduhan. Kartiko, bintang, menjadi penunjuk arah. Maruto, angin, adil terhadap yang dipimpin. Selain itu juga Dahono, api, memberikan reward and punishment. Angkoso, langit, berwawasan luas. Samudro, laut, menampung semua masalah; dan Bantolo, bumi, sabar, penuh pengertian dan mencukupi.
Nilai kepemimpinan lainnya, adalah “mikul dhuwur mendem jero”, yang berarti menjadi kewajiban untuk menjunjung tinggi pimpinan, menjaga kehormatan dan martabat pimpinan. Falsafah kepemimpinan Jawa lainnya yang penting dan sangat relevan dengan situasi ke-kinian, adalah “ojo gumunan, ojo kagetan lan ojo dumeh” , artinya, bahwa sebagai pemimpin, janganlah terlalu terheran-heran terhadap sesuatu yang baru, tidak menunjukkan sikap kaget jika ada hal-hal diluar dugaan, dan tidak boleh sombong sewaktu menjadi pemimpin. Bahkan, ada filosofi kepemimpinan Jawa yang lain, yang kemudian lebih dipopulerkan oleh Tokoh Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantoro, adalah ”ing ngarso sung tulodho”, ”ing madyo mangun karso”, “tut wuri handayani”. ”Ing ngarso sung tulodho”, yaitu pemimpin harus mampu berdiri di depan untuk memberi tauladan lewat sikap dan perbuatannya. ”Ing madyo mangun karso”, berarti seorang pemimpin harus mampu berada di tengah-tengah bawahannya, terus memberi semangat dan motivasi agar bawahan dapat bekerja lebih baik dan lebih produktif, dan  ”tut wuri handayani”, yaitu mendorong dan mendukung dari belakang kepada bawahannya. Untuk itu cara memelihara dan melestarikan Etnik Jawa yiatu dengan :
1           saling menghargai dan menghormati sesama etnik
2           menjaga kesantunan
3           serta lebih fungsional dan produktif.
4           menciptakan sikap, kepribadian, dan gaya, serta perilaku orang Jawa menjadi sosok yang simpatik, halus, santun, toleran, fleksibel, dan menyukai keharmonisan.

3.        Aspek Budaya
Memudarnya kecintaan terhadap budaya lokal menjadi tantangan bagi kita untuk mencari cara bagaimana mengembalikan rasa hormat kepada budaya sendiri. Sejarah membuktikan, kemajuan suatu bangsa dapat terjadi justru apabila suatu bangsa menghargai  kebudayaannya sendiri.
Kebudayaan dapat dilestarikan dalam dua bentuk yaitu :
A.       Culture Experience
Merupakan pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara terjun langsung kedalam sebuah pengalaman kultural. contohnya, jika kebudayaan tersebut berbentuk tarian, maka masyarakat dianjurkan untuk belajar dan berlatih dalam menguasai tarian tersebut. Dengan demikian dalam setiap tahunnya selalu dapat dijaga kelestarian budaya kita ini. Untuk itu Bupati mojokerto menganjurkan masyarakat maupun peresta didik disekolah untuk belajar membatik, Tembang, dan Sastra Jawa.

B.       Culture Knowledge
Merupakan pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara membuat suatu pusat informasi mengenai kebudayaan yang dapat difungsionalisasi kedalam banyak bentuk. Tujuannya adalah untuk edukasi ataupun untuk kepentingan pengembangan kebudayaan itu sendiri dan potensi kepariwisataan daerah. Dengan demikian para Generasi Muda dapat mengetahui tentang kebudayaanya sendiri.
Di Mojokerto sendiri terdapat beberapa wisata candi yang selama ini dijadikan sebagai pusat sejarah dan pusat wisata di Mojokerto, diantaranya adalah candi tikus, candi bajang serta patung budha tidur yang memiliki arsitektur tersendiri. Ada juga beberapa museum sejarah yang seringkali dikunjungi para pelajar untuk menambah wawasannya. Untuk memelihara candi tersendiri upaya yang dapat dilakukan dengan cara :
a. konservasi
Kegiatan pemeliharaan cagar budaya dari kemusnahan dengan cara menghambat proses pelapukan dan kerusakan benda sehingga umurnya dapat diperpanjang dengan cara kimiawi dan non kimiawi. Kegiatannya berupa pengangkatan Juru Pelihara, penataan lingkungan, pertamanan, pembersihan menggunakan pihak ketiga, embersihan dengan bahan kimia dan pengujian bahan kimia untuk konservasi.
b. pemugaran
Serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memperbaiki bangunan yang telah rusak dengan mempertahankan keasliannya, namun jika diperlukan dapat ditambah dengan perkuatan strukturnya. Keaslian yang harus diperhatikan dalam pemugaran mencakup keaslian bentuk, bahan, tehnik pengerjaaan, dan tata letak.
Selain dilestarikan dalam dua bentuk diatas, kita juga dapat melestarikan kebudayaan dengan cara mengenal budaya itu sendiri. Dengan hal ini setidaknya kita dapat mengantisipasi pencurian kebudayaan yang dilakukan oleh negara - negara lain. Penyakit masyarakat kita ini adalah mereka terkadang tidak bangga terhadap produk atau kebudayaannya sendiri. Kita lebih bangga terhadap budaya-budaya impor yang sebenarnya tidak sesuai dengan budaya kita sebagai orang timur. Budaya daerah banyak hilang dikikis zaman. Oleh sebab kita sendiri yang tidak mau mempelajari dan melestarikannya. Akibatnya kita baru bersuara ketika negara lain sukses dan terkenal dengan budaya yang mereka curi secara diam-diam.
Selain itu peran pemerintah dalam melestarikan budaya bangsa juga sangatlah penting. Bagaimanapun pemerintah memiliki peran yang cukup strategis dalam upaya pelestarian kebudayaan daerah ditanah air. Dalam hal ini bupati mojokerto mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang mengarah pada upaya pelestarian kebudayaan nasional. Salah satu kebijakan bupati yang pantas didukung adalah penampilan kebudayaan-kebudayaan  daerah disetiap event-event akbar nasional, misalnya tari-tarian , lagu daerah, dan menampilkan hiburan Kesenian Rakyat mojokerto yang sangat populer dalam masyarakat Jawa, yaitu Wayang Kulit, Ketoprak, Ludruk.
Semua itu harus dilakukan sebagai upaya pengenalan kepada generasi muda, bahwa budaya yang ditampilkan itu adalah warisan dari leluhurnya. Bukan berasal dari negara tetangga.Demikian juga upaya-upaya melalui jalur formal pendidikan. Masyarakat harus memahami dan mengetahui berbagai kebudayaan yang kita miliki. Pemerintah juga dapat lebih memusatkan perhatian pada pendidikan muatan lokal kebudayaan daerah. Selain hal-hal tersebut diatas, masih ada berbagai cara dalam melestarikan budaya, salah satunya adalah sebagai berikut
a.         Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam memajukan budaya lokal
b.        Lebih mendorong kita untuk memaksimalkan potensi budaya lokal beserta pemberdayaan danpelestariannya
c.         Berusaha menghidupkan kembali semangat toleransi, kekeluargaan, keramah-tamahan dan solidaritas yang tinggi.
d.        Selalu mempertahankan budaya Indonesia agar tidak punah
e.         Mengusahakan agar semua orang mampu mengelola keanekaragaman budaya lokal
f.         Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya budaya sebagai jati diri bangsa
g.        Ikut melestarikan budaya dengan cara berpartisipasi dalam pelaksanaannya
h.        Mempelajarinya
i.          Mensosialisasikan kepada orang lain sehingga mereka tertarik untuk ikut menjaga atau melestarikannya

4.        Aspek Bahasa
Karena sebagian banyak orang Mojokerto adalah suku jawa, maka masyarakat hendaknya dapat menggunakan bahasa jawa dalam kesehariaannya. Sehingga dapat menurun ke generasi berikutnya. Bahasa jawa sebagai bahasa daerah adalah aset bangsa yang harus dilestarikan keberadaannya. Lewat unggah ungguhing basa, di dalam bahasa jawa terkandung pelajaran tentang sopan santun, tuntutan untuk selalu mawas diri, merendah diri, dan bagaimana harus menghormati dan menghargai orang lain terutama orang yang lebih tua dan berkedudukan lebih tinggi.
Begitu luhurnya ajaran yang terkandung dalam bahasa jawa, maka sungguh sayang apabila kita biarkan punah begitu saja tergilas oleh perkembangan jaman. Mungkin dengan adanya perkawinan campuran dengan suku luar jawa akan menambah penutur bahasa jawa. Mengajari putra putrinya berbicara dengan bahasa krama yang halus serta sikap hormat dan santun  kepada orang tuannya ataupun kepada orang lain yang lebih tua. Upaya untuk melestarikan bahasa jawa juga sudah dilaksanakan pemerintah maupun swasta termasuk lewat media massa. Koran koran dan majalah sering menyelipkan rubrik bahsa jawa dalam penerbitnya. Selain itu bisa juga dengan menerbitkan buku sastra dan dongeng remaja berbahasa jawa yang sangat langka sekali sekarang ini. Pelestarian bahsa jawa lewat televisi juga sudah pernah dilakukan ada warta berita dalam bahasa jawa, cangkriman, ketoprak, wayang kulit, pangkur jenggleng, talk show dalam bahasa jawa. Namun selain itu kiranya perlu kesadaran kita semua untuk melu handarbeni, ikut memiliki, melestarikan dan memajukan bahasa jawa kepada generasi penerus kita. Kita yang  juga perlu memberikan tentang betapa penting dan indahnya budaya jawa kita ini.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar