Selasa, 13 November 2012

pelaksanaan religi di era globalisasi


Teori-teori terpenting tentang asal mula dan inti religi. Masalh asal mula dan inti dari suatu unsure universal seperti religi atau agam itu, masalah mengapakah manusia percaya kepada suatu kekuatan yang dianggapa lebih tinggi daripadanya, dan masalah mengapakah manusia melakukan berbagai hal dengan cara-cara yang beraneka warna untuk mencari hubungan dengan kekuatan-kekuatan tadi, telah menjadi obyek perhatian para ahli piker sejak lama. Adapun mengenai soal itu ada berbagai pendirian dan teori yang berbeda-beda. Teori yang terpenting adalah :
1)      Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena manusia mulai sadar akan adanya faham jiwa.
2)      Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena manusia mengakui adanya banyak gejala yang tidak dapat diterangkan dengan akalnya.
3)      Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi dengan maksud untuk menghadapi krisis-krisis masyarakat yang ada dalam jangka waktu hidup manusia.
4)      Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi terjadi karena kejadian-kejadian yang luar biasa dalam hidupnya, dan dalam alam sekelilingnya.
5)      Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi terjadi karena suatu getaran atau emosi yang ditimbulkan dalam jiwa manusia sebagai akibat dari pengaruh rasa kesatuan sebagai warga.masyarakatnya.
6)      Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi terjadi karena manusia mendapat suatu firman dari tuhan.

Dampak Globalisasi dalam bidang religi
Globalisasi merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi eksistensi Agama Hindu dan budaya Bali. Tidak ada satu bangsa atau budaya apapun di belahan dunia ini yang tidak terlepas dari globalisasi yang demikian tampak pesat pada setiap bangsa. Berbagai produk budaya global telah merambah berbagai aspek kehidupan. Dampak positif budaya global sangat dirasakan oleh masyarakat Bali. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Demikian pula alat-alat komunikasi, transportasi, dan informasi yang sangat canggih memberikan peluang kepada masyarakat Bali yang memang sangat terbuka, untuk berkomunikasi ke mana saja di belahan bumi ini. Wawasan masyarakat Bali terbuka untuk memetik hal-hal yang baik dari manapun berasal dan dengan kemampuannya yang selektif dan adaptif, menggunakan hal-hal yang baik itu untuk menghidupkan kembali Agama Hindu dan budaya Bali. Di balik dampak positif globalisasi, tidak dapat dihindari adalah dampak negatif budaya global tersebut. Teknologi komunikasi dan informasi yang demikian maju memberi peluang masuknya berbagai pengaruh budaya asing, ke dalam rumah dan bahkan ke dalam kamar-kamar dan kepada pribadi masyarakat. Dampak negatif budaya global tersebut merupakan dampak dari kehidupan modern. Muncul berbagai masalah di antaranya masyarakat semakin individualis, kurangnya solidaritas. Berkembangnya penyakit sosial seperti prostitusi, penyalahgunaan obat-obat psikotropika (narkoba, ekstasi, dan sebagainya), pencurian, perampokan, dan bahkan pemerkosaan.  
Globalisasi telah menimbulkan semakin tingginya intensitas pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan oleh masyarakat tidak jarang mengalami perubahan karena pengaruh nilai-nilai budaya global, terutama dengan adanya kemajuan teknologi informasi mempercepat proses perubahan tersebut. Proses globalisasi telah pula merambah kehidupan agama yang serba sakral menjadi sekuler, yang dapat menimbulkan ketegangan bagi umat beragama. Nilai-nilai yang mapan selama ini telah mengalami perubahan yang pada gilirannya menimbulkan keresahan psikologis dan krisis identitas di kalangan masyarakat (Ardika, 2005:18). 
Terlepas dari dampak positif dan negatif globalisasi tersebut, tampak beragam respon masyarakat Bali. Di satu pihak mereka optimis menghadapi tantangan globalisasi tersebut, di pihak yang lain ada yang sangat pesimis dan khawatir terhadap memudarnya berbagai nilai budaya Bali. Dalam situasi yang demikian, mantan Duta Besar India, Vinod C. Khanna dan Malini Saran yang telah beberapa kali mengunjungi Bali, dan menulis buku The Ramayana in Indonesia (2004) seperti dikutip oleh Dharma Putra dan Widhu Sancaya (2005:XV) menyatakan bahwa Bali dapat dijadikan satu contoh untuk Asia sebagai daerah yang memiliki kemampuan untuk mengadaptasi budaya tradisional agar relevan dengan budaya global.

Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui bahwa Agama Hindu dan budaya Bali mampu menghadapi budaya globabal, namun demikian kekhawatiran sebagian masyarakat tentang dampak negatif globalisasi perlu diusahakan jalan untuk mengatasi dan mungkin mencegahnya.
Seperti telah disebutkan di atas, bahwa Agama Hindu menjadi jiwa dan sumber nilai budaya Bali, untuk itu kiranya perlu diketengahkan bagaimana sinergi dan dinamika Agama Hindu dengan budaya Bali dan melakukan fungsinya sesuai dengan budaya Bali. Sinergi dan dinamika Agama Hindu di Bali telah melahirkan berbagai kearifan lokal. Agama Hindu dan tidak menghapuskan tradisi masyarakat dan budaya Bali sebelumnya, tetapi sebaliknya memberikan pencerahan kepada budaya lokal. Berbagai kearifan lokal telah terbukti mampu menjadikan Agama Hindu dan budaya Bali eksis sepanjang masa. 

Pendidikan agama kian penting di tengah era globalisasi sekarang. Sehingga penguatan pendidikan akhlakul karimah dalam sistem pendidikan nasional sangat diperlukan.
“Di era globalisasi tentunya akan memunculkan serentetan permasalahan. Sehingga dengan kondisi sekarang diperlukan penguatan penidikan agama. Berikut adalah peran religius di era globalisasi:
1.      Peran religi dalam menyikapi masuknya kebudayaan luar
Dalam menanggapi pengaruh kebudayaan luar dalam era globalisasi ini. Kita tidak dapat mengisolasi diri. Hal ini disebabkan oleh adanya kemajuaan teknologi dan komunikasi. Informasi yang datang dari luar dapat dengan mudah kita terima, misalnya melalui internet, TV, Radio dll. Keadaan semacam inilah yang disebut modernisasi yang akan berkembang terus hingga melahikan era globalisasi. Kelahiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan manusia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan negatif. Kita lihat saja masuknya teknologi internet. Internet merupakan teknologi yang mampu memmerikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apalagi bagi anak muda, internet sudah menjadi santap mereka sehari-hari. Jika digunakan semestinya tentunya kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misalnya untuk membuka situs-situs porno. Pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Kita sebagai seorang muslim tidak diperbolehkan melakukan perbuatan yang dilarang syari'at islam. Seperti menggunakan internet tidak semestinya yang sudah kita bicarakan diatas. Hal tersebut dapat berdampat buruk bagi penggunanya sendiri dan orang lain yang terlibat karena dapat menjerumuskan dalam kemaksiatan seperti berzina. Untuk dapat terhindar dari perbuatan buruk tersebut tentunya  diperlukan pendidikan yang sesuai dengan ajaran islam dan kekiasaan berakhlak baik. Al Ghozali juga menegaskan bahwa akhlakul karimah (akhlak keagamaan) tidak akan melekat pada diri, manakala diri seseorang tidak memiliki kebiasaan berakhlak yang baik. Dan untuk mampu berakhlakul karimah juga wajib meninggalkan semua perbuatan yang buruk (akhlakul madzmumah).

2.      Peran Pendidikan Islam Dalam Membentuk Prilaku Yang Baik
Dengan pendidikan agama akan membentuk karakter akhlakul karimah bagi siswa sehingga mereka mampu memfilter mana pergaulan yang baik dan mana yang tidak baik. Para ahli pendidik Islam telah sepakat bahwa maksud dari pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik tetapi maksudnya adalah mendidik akhlak dan jiwa mereka, dengan kesopanan yang tinggi, rasa fadilah (keutamaan), mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang seluruhnya ikhlas dan jujur. Pada akhirnya tujuan pendidikan Islam itu tidak terlepas dari tujuan nasional yang menciptakan manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan agama mengarahkan kepada setiap siswa untuk komitmen terhadap ajaran agamanya. Tidak terbuai dengan lingkungan yang tidak baik. Tidak berprilaku buruk dalam setiap aktivitasnya. Pendek kata, dengan pendidikan agama prilaku siswa dapat diarahkan. Masyarakat harus segera disadarkan bahwa ancaman global khususnya kemajuan tekhnologi informasi dan komunikasi kalau tidak dibarengi dengan benteng ilmu agama akan berakibat fatal terhadap lajunya prilaku dekadensi moral.  Contoh, rasa ingin tahu anak didik akan membuatnya mencari informasi melalui media komunikasi (internet). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar